Selasa, 30 Maret 2010

MENCARI BENING MATA AIR

ﺑﺴﻤﺍﻠﻟﻪ ﺍﻟﺭ ﺤﻤﻦ ﺍﻟﺭﺤﯿﻤ

ﺍﻟﺤﻤﺪﻠﻟﻪ ﺍﻟﺫﻲ ﺠﻌﻞﺍﻻﺭﺾ ﻂﻴﺒﺔ ﻂﻬﻮﺭﺍﻮﻤﺴﺠﺪﺍ ﻮﺍﻠﺼﻼﺓﻮﺴﻼﻢ ﻋﻠﻰﺤﺒﻴﺒﻨﺎﻮﻗﺮﺓﺍﻋﻴﻨﻨﺎ ﻮﻤﻮﻻﻧﺎﺴﻴﺪﻧﺎﻤﺤﻤﺩ ﺍﻠﺫﻱ ﺍﺭﺴﻟﻪ ﺑﺷﻴﺭﺍﻭﻨﺫ ﻴﺭﺍ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻠﻪ ﻭﺻﺤﺑﻪ ﻮﻤﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ ﺍﻠﻰ ﻴﻮﻢ ﺍﻠﻘﻴﻤﻪ ﺍﻤﺍ ﺑﻌﺩ

Setelah kami melihat, menyaksikan serta memahami berbagai berbagai macam kejadian dan keadaan yang terjadi selama tidak kurang dari 10 (sepuluh) tahun akhir – akhir ini, baik yang terjadi di Kampung kami maupun di Desa – Desa yang ada di sekitar Kabupaten Sidoarjo, bahkan di daerah – daerah lain yang pernah kami singgahi, ada Persoalan atau masalah yang kurang lebih nyaris sama, yaitu adanya “ Semangat “ berlomba – lomba untuk menjadi atau senang dijadikan bagian dari yang dinamakan “ MASJID atau Pengurus “ dan yang berafiliasi dengan hal tersebut, agar mendapatkan Tempat atau Strata di Masyarakat. Mungkin dalam pandangan kami, semuanya tak lepas dari Dogma Agama ﻓﺎﺴﺗﺑﻘﻭﺍ ﺍﻠﺧﻴﺮﺖﺍ (“ Berlombah – lombah dalam hal kebajikan “).
Atau mereka sedang mengamalkan sabda baginda Rosulallah SAW.

ﻣﻥ ﺑﻧﻰ ﻣﺴﺟﺪﺍ ﻠﻟﻪ ﺑﻧﻰ ﺍﻠﻟﻪ ﻟﻪ ﻓﻲﺍﻟﺟﻧﺔ

“ Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah membangun baginya rumah di surga ( HR : Muslim ). Sungguh cita – cita yang luar biasa.

Tapi yang membuat kami menjadi agak sedih dan bingung adalah Proses atau Cara yang digunakan untuk itu, sering malah bertabrakan dengan dogma dan norma yang sudah ada atau baku. Baik kita sebagai manusia yang beragama atau kita manusia yang kebetulan tumbuh sebagai makhluk sosial tak jarang malah memutus tali Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Sya’biyah serta Ukhuwa Insyaniyah. Padahal dalam kaidah ushul fiqih :

ﺩﺭﺀﺍﻟﻣﻔﺎﺴﺪ ﻣﻘﺩﻢ ﻋﻠﻰ ﺟﻟﺐ ﺍ ﻠﻣﺼﺎﻟﺢ

“ Menghindari kerusakan lebih didahulukan (diutamakan) dari pada mencari kemaslakhatan “.

Belum lagi setelah sudah menjadi pemimpin, cara yang digunakan untuk menjalankan atau memanage kepemimpinannya, Amanah yang di pegang sering atau acap kali tidak berlandaskan dengan aturan Agama atau mengacu pada kemaslakhatan itu sendiri. Bagaimana bisa berlombah – lombah dalam kebajikan tapi di lain sisi meruntuhkan sendi – sendi kebajikan ? Bukankah tujuan agama itu sendiri adalah memberikan kebajikan / kemaslkhatan di Dunia dan Akhirat bagi pemeluknya.

Demikian pandangan kami atas semua yang terjadi pada akhir – akhir ini di lingkungan kami dan sekitarnya yang tentunya sangat mungkin bisa salah dan keliru atau tidak tepat dan benar.


Atas semua itu perlu kiranya kami sampaikan sejarah Nabi Muhammad SAW yang ada kaitannya dengan uraian diatas :

“ Setelah kurang lebih 13 tahun Nabi SAW berdakwa di Makkah dengan mengalami berbagai macam tekanan dan ancaman, akhirnya Nabi SAW memutuskan Hijrah ke Madinah. Dalam perjalanan menuju Madinah, tepatnya pada tanggal 2 Rabiul Awal, Hari Senin ( 30 September 622 M ) Beliau singgah di daerah Kuba selama 22 malam. Di kota inilah Nabi SAW membangun sebuah masjid yang dalam Al-qur’an Allah SWT mengabadikannya dengan firmannya: ﻠﻣﺴﺠﺪ ﺍﺴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻠﺗﻘﻭﻰ
“ Masjid yang didasari dengan taqwa “.

Karena pada saat yang sama orang – orang munafik juga membangun Masjid yang tujuannya adalah untuk menandingi Masjid yang dibangun oleh Rasulallah SAW dan untuk memecah belah umat islam. Masjid Kuba inilah Masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulallah SAW.

Ada banyak faktor mengapa Rasulallah membangun Masjid ini, yang diantaranya adalah untuk memupuk dan menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan antara kaum Anshor dan Muhajirin, disamping sebagai pembuktian kesetiaan dan ketaatan umat islam kepada Agamanya dan kepada Baginda Rasulallah SAW.

Merujuk sedikit Sejarah di atas, maka kami berkesimpulan bahwasannya ada bnyak faktor yang harus menjadi pertimbangan jika kita hendak melaksanakan Amanah atau Memimpin atau ingin menjadi yang memimpin dalam Masjid atau Organisasi dan yang berafiliasi dengan hal tersebut. Firman Allah SWT :

ﺍﻨﻤﺎﻴﻌﻤﺮ ﻤﺴﺠﺩ ﺍﻠﻟﻪ ﻤﻥ ﺍﻤﻥ ﺑﺎﺍﻠﻟﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻢ ﺍﻟﻻﺧﺮ ﻮﺍﻗﺎﻡ ﺍﻠﺼﻼﺓ ﻮﺍﺗﻰ ﺍﻟﺰﻜﺍﺓ ﻮﻠﻮ ﻴﺨﺶﺍﻻﺍﻠﻠﻪ ﻓﻌﺴﻰ ﺍﻭﻠﺎﻚ ﺍﻦﻴﻛﻭﻧﻭﺍ ﻤﻥﺍﻠﻤﻬﺗﺪﻴﻥ

“ Hanyalah yang memakmurkan Masjid – masjid Allah ialah orang – orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah SWT, maka merekalah orang – orang yang diharapkan termasuk golongan orang – orang yang mendapat petunjuk “.

Melihat serta memahami ayat di atas ada beberapa faktor atau kriteria pemimpin atau yang mengurusi Masjid dan Organisasinya, yang tersirat dari ayat di atas :

1. Faktor Taqwa, yang tersirat dari kalimat ﻤﻥ ﺑﺎﺍﻠﻟﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻢ ﺍﻟﻻﺧﺮ

2.Faktor ketegasan ( Adil ) yang tersirat dari kalimat ﻮﺍﻗﺎﻡﺍﻠﺼﻼﺓ

3. Faktor Sosial yang tersirat dari kalimat ﻮﺍﺗﻰ ﺍﻟﺰﻜﺍﺓ

4. Faktor Kejujuran dan Amanah yang tersirat dari ﻮﻠﻮ ﻴﺨﺶ ﺍﻻﺍﻠﻠﻪ

5. Faktor Keterbukaan/Mau Bertanya/Menerima Saran dan Kritik yang tersirat dari kalimat ﻓﻌﺴﻰﺍﻭﻠﺎﻚ ﺍﻦﻴﻛﻭﻧﻭﺍ ﻤﻥﺍﻠﻤﻬﺗﺪﻴﻥ


Dengan memperhatikan serta mempertimbangkan aspek/Faktor di atas, Insya Allah pemimpin – pemimpin yang di bebani Amanah oleh umat untuk mengatur serta mengelolah tanggung jawab atas Masjid akan menjadi lebih baik, lebih Transparan, lebih Bijaksana, kalaupun tidak mengerti suatu Hukum atau permasalahan tidak enggan untuk bertanya kepada yang lebih mengerti atas Hukum atau permasalahan tersebut, seperti yang difirmankan Allah SWT :
ﻓﺎﺴﻠﻭﺍ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺫﻛﺮ ﺍﻥ ﻛﻧﺗﻢ ﻻﺗﻌﻟﻤﻭﻥ

Yang pada akhirnya terciptanya keharmonisan umat beragama bukan hanya dengan Tuhannya tapi antara sesama umat, individu dengan individu.

Sebab Masjid adalah simbol dan sarana bagi hamba untuk bermunajat, melimpahkan segala bentuk persoalannya kepada Tuhannya. Masjid adalah tempat pertaubatan bagi hamba, tempat untuk meraih rahmat, maghfiroh serta ridho Allah. Dan Masjid merupakan tempat berinteraksinya manusia – manusia yang pada hakekatnya sebagai makhluk sosial.

Bila ditinjau dari segi Bahasa Masjid berasal dari kata sajada yang berarti tempat sujud, Masjid berarti temapt bersujud
Dan sujud itu sendiri adalah bukti ketaatan hamba, Nabi SAW bersabda
ﺍﻗﺮﺐﻤﺎﻴﻛﻭﻦ ﺍﻠﻌﺑﺪ ﻤﻦ ﺭﺒﻪ ﻓﻬﻭ ﺴﺎﺟﺪ

“ Lebih dekat – dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya, ketika dia sedang bersujud “.

Dan akhirnya kepada Santri – santriku tercinta, Saudara – saudaraku, Sahabat – sahabatku yang mulia, ingatlah ! kalian semua adalah Pemimpin – pemimpin dan kalian semua akan ditanyai tentang kepemimpinanmu, kalian akan ditanyai atas rakyat yang kamu pimpin, maka bekalilah diri kalian dengan Ilmu dan Amal, jika kalian diberi Amanah untuk memimpin, bekalilah dirimu dengan sistem / managemen yang baik, jangan hanya dengan managemen Lillahita’ala. Pada saat ini / zaman sekarang tidak cukup dengan hanya lillahita’ala, sebab manusia sekarang banyak yang belum bisa dipercaya, sulit saat ini menemukan manusia yang bergelar Siddiq dan Amanah, ingat wasiat orang – orang Jawa dahulu “Pemimpin iku kudu pinter, bener lan puber” ( pemimpin itu harus pandai, mengerti yang dipimpin, harus jujur bisa dipercaya dan berakhlak mulia, harus tidak boleh patah semangat ).

Dan jika kalian kebetulan termasuk yang dipimpin jangan berhenti mengingatkan, menyampaikan pendapat, tapi tentunya harus dengan cara – cara yang santun dan hikmah, Firman Allah :
ﻭﺟﺎﺩ ﻠﻬﻢ ﺑﺎﻠﺗﻰ ﻫﻲ ﺍﺤﺴﻦ

Dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik, yang pada akhirnya

ﺘﺻﺮﻒﺍﻻﻤﺎﻡ ﻤﻊ ﺍﻠﺮ ﻋﻴﺔ ﻤﺗﻭﻁ ﺒﺎﻠﻤﺼﻠﺤﺔ

Pemimpin itu menjalankan kepemimpinannya bersama rakyat yang dipimpin berlandaskan kemaslakhatan.



Penulis : MASHUDAN NA.
Pengasuh Sanggar Pendidikan Al-quran
Anak Negeri Al-Muhtadin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar